Birokrasi Sebagai Awak Sistem Sosial

Oleh : Rizki Al Kharim




       Impian untuk mewujudkan sistem sosial yang benar-benar kondusif kadang hanya menjadi cerita dongeng bangsa indonesia yang terus diceritakan di berbagai sudut kota dewasa ini. Birokrat sebagai awak dari sistem sosial, harus mampu menjalankan sebuh konsensus sistem tersebut.
Kapasitas yang memadai harus ada dalam diri seorang awak sistem sosial. Mulai dari integritas, akuntabilitas dan lain-lain sebagai modal untuk menjalankan sistem sosial yang seimbang yang menimbulkan sebuah keadaan yang kondusif. Disinilah tujuan masyarakt kita. Namun kenyataanya tidak semua masyarakat yang mampu menciptakan keadaan ini, seperti Indonesia.
     Kelebihan indonesia dengan negara majemuknya membuat negara ini banyak mengalami benturan-benturan di berbagai segi kehidupan. Disini kita hanya akan membahas benturan yang terjadi dari segi ekonomi. Suatu segi yang dianggap lazim untuk diperebutkan orang. Disinilah tugas penting sebuh awak sistem tersebut. Konsensus dalam sistem sosial tersebut agar tetap lurus dan berjalan dengan baik, perlu sebuah orang-orang terpilih yang akhirnya orang-orang tersebut diberi amanah untuk memerintah dalam sistem tersebut. Memerintah disini yaitu memerintah orang untuk menjaga sistem tersebut . orang-orang terpilih tersebut dapat kita sebut sebuah birokrasi. Subuah kelompok orang-orang yang tugas administratif sosial kemasyarakatan secara sempit. Secara luas tugasnya yaitu menjaga konsensus sistem sosial masyarakat tersebut agar tetap seimbang dan strabil.
      Menjaga sistem tersebut berarti harus menjaga keseimbangan dalam sistem termasuk dalam hal ekonomi. Disparitas mencolok antara borjuis dan proletar membuat keseimbangan sistem tidak lagi seimbang. Inilah tugas birokrat untuk menyeimbangkannya. Birokrasi membuat atauran atau rumus jitu untuk meratakan potensi ekomoni disetiap daerah bahkan setiap jiwa dalam dalam subuah masyarakat. Karena hal itersebut adalah mustahi. Potensi daerah itu adalah peristiwa alam yang sudah digariskanoleh sang pencipta dan Si Miskin dan Si Kaya juga merupakan sebuah pasangan serasi yang tidak dapat dipisahkan atau dilenyapkan salah satu. Birokrasi hanya perlu membangun semuah formulasi melakui sebuah konstitusi atau konvensi tentang sebuah keadaaan dimana yang Kaya menyayangi yang Miskin dan yang Miskin mengasihi yang Kaya. Hal ini lah yang perlu dibagun. Sosok orang kaya tidak akan pernah ada jika mereka tidak diperkuat dengan status orang miskin. Jika semua orang kaya atau mempunyai potensi yang sama maka tidak ada sebutan orang miskin, bahkan juga tak ada sebutan orang kaya, karena ukurannya tidak ada.
      Awak sistem sosial adalah pengayuh kapal sistem sosial agar mempu berjalan stabil ditengah lautan. Dimana kondisi lautan yang tidak dapat ditebak dari badai dan lain-lain harus dapat diatasi. Tugas sebuah awak tidak hanya menyeimbangkan atau menjaga kesetabilan kapal sistem sosial tetap bertahan dari derasnya ombak dan kuatnya badai ditengah lautan jaman yang terus berubah, namun awak juga mampu mengarahkan atau mengayuh kapal tersebut kearah impian masyarakat yaitu kesejahtraan. Arah kapan dan arah pengayuh harus benar agar tidak salah jalan termakan globalisasi yang menjadi sistem sosial pengikut dari sistem sosial besar. Birokrasi sebagai awak kapal tidak perlu menutup pintu kapalnya rapat-rapat agar orang dari kapal lain tak singgal dikapalnya. Mereka perlu tetap berinteraksi dengan sistem sosial yang lain. Meraka juga harus tetap beradatapsi dengan tanpa meninggalkan budaya. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tetap menjunjung tinggi budayanya.
Previous
Next Post »
Thanks for your comment